Sinopsis My Last Love karya Agnes Davonar
My Last Love
Bermula dari kisah online tahun 2011
serta selanjutnya dipublikasikan menjadi novel yang mencatat best seller. My last love jadi film awal tavvhun 2012 ciptaan Agnes Davonar.
Sebelumnya, kisah mengharukan cinta antara Angel dengan Martin sudah jadi
cerita online yang dibaca lebih dari 150.000 visitor kompasiana.
Untuk yang
penasaran dengan kisah tersebut masih dapat dibaca [ di sini
] . Angel (Donita) percaya mengenai cinta sejatinya ialah Hendra (Ajun
Perwira). Hingga suatu ketika, musibah tragis tidak terduga menerpa Angel.
Merabut semua mimpi yang dibangunnya. Malam ketika akan mendatangi undangan
makan malam keluarga besar, satu buah mobil mewah yang dikemudikan sama Martin
(Evan Sanders), menabraknya. Martin bukannya membantu melainkan justru kabur
begitu saja. Membiarkan Angel yang pingsan terkapar pada aspal jalanan, plus
cedera parah. Angel selamat, tetapi kenyataan pahit mesti diterimanya. Kedua
kakinya cacat, lumpuh, tidak dapat berjalan sama sekali.
Sejak pertemuan tersebut, Martin
berniat menebus kesalahannya, Martin tulus hati keluar uang ratusan juta untuk
tebus kesalahannya, serta mengobati cacat untuk kedua kaki Angel.Sepanjang
perguliran waktu, ikatan Martin dan Angel makin dekat. Angel tidak pernah sadar
mengenai Martin merupakan orang yang menabraknya sampai kakinya lumpuh.
Sampai satu ketika, Angel lagi-lagi
mesti menanggung kenyataan pahit. Martin mengidap kanker otak sampai mesti
dirawat di rumah sakit. Bukan cuma itu, Martin pun menderita cacat dibagian
syaraf otaknya. Di saat bersamaan Angel yang tetap setia kepada Martin,
memperoleh keajaiban tidak terbayangkan sama sekali, ketika merawat Martin.
Angel bisa berjalan lagi.
Berikut adalah cuplikan kisahnya :
Dalam hidupku, aku mungkin terlahir
sebagai gadis yang paling dicintai Tuhan, sejak kecil, aku kehilangan ayahku karena
sebuah kecelakaan. Ibu berjuang membesarkanku dengan mencuci pakaian hingga
akhirnya beliau memiliki toko Laundry. Ketika usiaku 22 dan tumbuh sebagai
gadis yang normal serta memiliki seorang kekasih yang hendak menikahiku, Sebuah
kecelakaan menghancurkan segalanya. Aku kehilangan kedua kakiku yang lumpuh dan
kekasihku walau tidak pernah mengatakan pisah padaku, takdir membuatku sadar
kami harus berpisah karena aku bukanlah gadis yang diharapkan menjadi menantu
keluarganya, karena mereka menyebutku gadis cacat.
Walaupun aku cacat, aku tidak pernah
menyerah terhadap hidupku. Aku tidak dendam terhadap orang yang telah membuatku
cacat, walau ia menghilang setelah kejadian itu. Hingga seorang pria yang
begitu mencintaiku datang, ia menerima keadaanku yang cacat. Namanya Martin, ia
pria tampan yang begitu sederhana dalam hidupku. Walaupun aku cacat, ia
berjuang untuk hidupku. Menjadi pria yang menjaga dan melindungiku. Kadang aku
sampai bertanya? Apa yang membuatnya begitu mencintaiku, rela menghabiskan waktu
dan uangnya hanya untuk membuatku yakin.
Kalau aku akan sembuh dan normal
pada suatu saat nanti.
Suatu hari ia memberitahuku, ia
memikili seorang dokter yang dapat menyembuhkanku, ia memintaku ikut dengannya
ke Amerika. Aku awalnya berpikir ini mustahil, tapi berkat kuasa Tuhan dan Doa
ibuku, akhirnya aku benar-benar sembuh walaupun tidak bisa berlari, setidaknya
aku masih bisa berjalan tanpa kursi roda yang sudah bersamaku beberapa tahun
belakangan ini. Aku pikir aku akan menjadi gadis paling bahagia, setelah Martin
melamarku tepat di hari Valentine. Aku menerimanya, kami menikah dan hidup
bahagia tapi tidak untuk Martin, ia terusir dari keluarga dan materi yang biasa
ia dapatkan sebagai anak orang kaya.
Martin pria yang sangat bekerja
keras, walau tanpa uang dari ayahnya, ia mampu berkerja apapun sebagai suami.
tapi 6 bulan setelah pernikahan kami saat aku hamil 3 bulan. Ia tiba-tiba
pingsan dihadapanku. Ia Nampak tidak sehat sehabis pulang bekerja. Karena cemas
aku membawanya ke rumah sakit. Dan betapa hancurnya hatiku, saat dokter berkata
kalau suamiku terjangkit virus HIV. Aku menangis, menunggu saat yang tepat
untuk bertanya kepada suamiku, mengapa penyakit itu bisa ada dalam hidupnya.
Tapi hal itu tidak pernah aku tanyakan, karena lebih baik aku berpikir untuk
fokus menyembuhkan dirinya dari penyakit paru-paru basah miliknya, karena ia
bekerja sebagai pelatih renang dan itu lah penyebab paru-parunya penuh air.
Martin, tanpa aku bilang tentang
penyakitnya, ia sudah tau apa yang ada di dalam tubuhnya. Aku tau ia cemas,
bayi yang kami kandung. Mungkin ataupun aku, bisa terjangkit virus yang sama
dengannya. Tapi sebagai istri, aku berusaha kuat, walaupun aku cemas terhadap
hasil akhir tes darah yang akan diberikan dokter tentang kondisi tubuhku. Beberapa
hari kemudian, hasil tes mengatakan aku ataupun bayi di perutku tidak terjankit
dan aku bersyukur melewati cobaan ini.
Tanpa alasan yang aku mengerti,
tiba-tiba kondisi Martin begitu genting dan darurat. Dokter mengatakan, terjadi
kompilasi penyakit kuning dan rusaknya paru-paru. Aku menangis, memikirkan
keadaan suamiku. Ia menatapku, membesarkan hatiku. Tapi aku bisa melihat ada
sesuatu di hatinya yang hendak ia katakan padaku. Dokter mengatakan padaku,
kalau kondisi suamiku mungkin sulit disembuhkan dan mereka menyarankan aku
mencari pengobatan di Singapura. Aku pun menawarkan suamiku. Tapi ia menolak,
ia meminta di rawat di sini. Aku hanya terdiam, aku tau, ia tidak ingin
dibantah dan aku hanya bisa berdoa kepadanya agar Tuhan memberikan mujizat.
Sampai suatu hari, aku mulai
mendapatkan kejujuran dari suamiku, tentang hidupnya. Sebuah misteri yang tak
pernah aku tau. Ia mengatakan kalimat maaf setiap hari hingga 7 hari dengan
berbagai hal yang sulit kupahami.
Hari pertama, ia bicara padaku
“ Angel, aku ingin mengatakan sebuah
kejujuran dalam hidupku. Hal pertama yang ingin kukatakan padamu, aku tau aku
terjankit virus HIV Sejak 1 bulan setelah pernikahan kita, aku minta maaf
padamu, mungkin ini dosaku, di masa mudaku, hidup terlalu bebas dan kini
menerima akibatnya ”
Aku hanya tersenyum dan berkata.
“ Tidak apa Martin, karena semua
sudah menjadi jalannya. Aku ataupun bayi yang sedang kita kandung sehat
negative dari virus HIV, janganlah kamu merasa bersalah. ”
Hari kedua, ia kembali bicara
padaku.
“ Angel, aku ingin mengatakan
kejujuran kedua dalam hidupku. Aku adalah orang yang membuatmu cacat dan pelaku
dari tabrak lari yang membuatmu lumpuh. Maafkan aku..”
Aku shock, aku sadar memang
terlintas Martin adalah pelaku yang membuatku cacat, tapi aku pun bisa menerima
keadaan itu.
“ Aku tau sejak awal kamu adalah
orang yang membuatku cacat, tapi aku bisa mengerti. Aku sadar kamu begitu
menyesali kejadian itu, kamu hadir dalam hidupku, begitu bersemangat membuatku
sembuh. Itu sudah membuktikan kalau kamu merasa menyesal dan bertanggung jawab”
“ Aku terpaksa melakukan itu, lari
dari tanggung jawab. Karena orang tuaku tidak mau di penjara dan memintaku lari
keluar negeri, setelah aku bisa kembali,aku pun mencarimu, melihatmu dengan keadaan
lumpuh, aku sungguh berdosa. Aku memohon maaf atas ketidakjujuran selama ini.”
“ Lupakan saja Martin, aku sudah
memaafkanmu sejak kamu berani muncul padaku. Aku bahagia dengan semua ini,
janganlah merasa bersalah..”
Martin hanya tertunduk walaupun ia
masih berasa bersalah. Hari ketiga ia pun bertanya padaku.
“ Angel andai aku sembuh, maukah
hidup denganku sebagai pria HIV, apakah kau tidak takut padaku?”
Aku menjawab dengan hatiku yang
tulus.
“ Martin, ketika aku disebut gadis
cacat, kamulah orang yang selalu melindungiku, mengendongku saat aku tidak bisa
menaiki tangga, menikahi gadis cacat sepertiku, bahkan menghabiskan uang yang
banyak untuk kesembuhan hidupku, berpisah dengan kelurgamu. Kamu menerima aku
sebagai gadis cacat, itu adalah kebesaran hidup yang paling indah buatku,
sekarang kalaupun sakit, biarkanlah aku menjaga dan merawatmu, dengan cinta
yang sama saat kau berikan padaku yang cacat”
Martin menangis mendengarkan itu,
aku pun menangis, ia bahkan sampai diusir dari keluarganya karena menikah
denganku. Ayahnya orang kaya, tidak akan sudi memanggilku menantu. Karena aku
cacat saat dulu.
Hari keempat ia kembali bicara
padaku, wajahnya semakin pucat. Aku tau, kondisinya memburuk.
“ Angel bersediakah kau pergi
menemui keluargaku, menyampaikan permohonan maafku, kepada ayah, ibu dan
adikku,memberitahukan kepada mereka, kalau kau sedang mengandung cucu mereka.?”
Aku tau ini jawaban yang sulit, tapi
aku pun menyanggupi, aku tau mereka akan menolakku atau bahkan mengusirku tapi
demi Martin, aku berjuang untuk menyampaikan pesan suamiku. Aku tiba dirumah
mereka, menekan bel. Ibunya menyambutku dengan kalimat “ Gadis cacat tidak tau
malu, “ aku tetap menaruh senyumku. Ayahnya muncul tapi hanya memperhatikanku
sambil berkata” Mau apalagi? Sudah cukup mengambil putraku? Apalagi yang
kurang?”
Aku dengan tenang berkata, “ Ayah
dan ibu, saat ini Martin terbaring sakit, ia memintaku untuk datang pada
kalian. Walaupun aku tau, sulit untuk kalian menerimaku, tapi setidaknya
biarkanlah aku memohon kepada kalian untuk melihat Martin, ia ingin berjumpa
dengan kalian. Kalaupun kalian tidak sudi untuk itu, aku ingin kalian tau,
Martin memohon Maaf kepada kalian, andai kata ia tidak menjadi anak yang
berbakti. Aku sedang hamil dan beberapa bulan lagi akan melahirkan. Setidaknya
izinkan cucumu ini kelak menemuimu dan memanggilku kakek dan nenek.”
Aku pergi dengan berlinang air mata,
ayah dan ibu Martin tidak menjawab apapun. Aku sedih dan menghampiri Martin,
mengatakan semua yang sudah kulakukan. Ia membelai kepalaku, membesarkan hatiku
dan berkata kalau kelak ayah dan ibunya akan menerima aku dan cucunya.
Hari ke lima, Martin kembali bicara
padaku.
“ Angel, bolehkah kau membuatkanku
makanan yang ingin sekali kumakan?”
“ Makanan apa Martin.”
“ Sejak menikah denganmu, aku paling
suka masakan sayur lodeh buatanmu. Bisakah kau membuatkanku itu?”
“ Aku akan buatkan untukmu.”
Aku pulang ke rumahku, dengan wajah
penuh kesedihan. Aku sadar, ibuku pernah berkata, bila seseorang meminta makanan
yang hendak ia makan, artinya cepat atau lambat, makanan itu akan menjadi
makanan terakhir yang ia makan. Sejak kecil ia terbiasa makanan mewah, hidup
bersamaku dengan makanan kampung membuatnya lebih bahagia. Dengan penuh
kesedihan aku membuatku makanan itu, membawanya kepada Martin. Ia menyantapnya
dengan lahap, padahal ia tidak pernah mau makan beberapa hari terakhir karena
merasa tidak nafsu makan.
Hari ke enam menjelang hari ketujuh.
Martin membelai perutku yang mulai
membesar, dan bertanya.
“ Apakah kamu tau, apa jenis kelamin
bayi kita?”
“ Kata dokter, ia akan menjadi anak
perempuan.”
“ Aku senang, aku boleh memohon
padamu Angel?”
“ Katakan Martin..’
“ Berikan nama anak kita Angel,
seperti namamu, karena namamu begitu indah terdengar. Bersediakah kau lakukan
itu untukku.”
Aku menahan tangisku, aku pun
menyanggupi permohonan Martin. Ia mulai merasa tak kuat menahan rasa sakitnya.
Terkadang aku sedih melihatnya saat kesakitan, tapi aku tak bisa melakukan
apapun selain berdoa agar dirinya lekas lepas dari penderitaan begitu berat
baginya. keesokan harinya, hari paling berduka dalam hidupku. Hari yang tak
akan pernah terlupa dalam hidupku. Martin tiba-tiba meminta dokter memanggilku
dan bicara padaku.
“ Angel, kau harus tau, hidupku
mungkin singkat di dunia ini. Tapi di dalam hidupku hanya tersimpan dua hal
yang akan pernah kulupakan. Hal pertama adalah saat aku pertama kali jatuh
cinta padamu, dan kedua, saat aku bisa melihatmu berjalan. Andai aku kelak tak
ada lagi, berjanjilah padaku, merawat anak kita hingga menjadi anak yang
berbakti, berikah kasih sayang yang tak sempat kuberikan padanya. Dan katakan
padanya, aku sangat mencintainya..”
“ Kenapa kamu bicara seperti itu
Martin, kamu jangan tinggalkan aku.. aku tidak bisa hidup tanpamu?” kekuatan
hatiku hilang saat itu untuk tegar.
“ Kamu adalah gadis kuat, aku
percaya kamu akan bertahan dan berjanji hidup untukku..”
“ Aku takut..”
“ Berjanjilah, padaku..”
Dengan berat hati aku berjanji
padanya. Saat itulah aku melihatnya pergi terakhir kalinya dalam hidupku. 7 Hal
yang ia katakan sebelum pergi menyadarkan aku betapa ia sangat berarti dalam
hidupku. Betapa dia adalah orang yang telah membuatku hidup sebagai gadis kuat
yang mampu bertahan dari cobaan berat dalam hidupku. Martin pun meninggal
dengan membawa kenangan terindah dalam hidupku.
Kutaburkan abu hidupnya yang
terakhir di laut, kujanjikan masa depan anak kami untuk mengenangnya. Ia
mungkin pergi dalam hidupku, tapi ia mengajarkan kepadaku arti cinta
sesungguhnya. Arti cinta dan pengorbanan bagi dirinya. Cinta yang membuatnya
kehilangan segalanya. Harta dan keluarganya, tapi tidak kebesaran hatinya
untukku.
Semoga saja kisahku ini menjadi
kekuatan kalian untuk memberikan arti cinta tanpa berharap balasan yang tidak
bisa dihargai dengan uang ataupun berlian sekalipun.
Tamat.
Kisah ini terdapat dalam novel Agnes
Davonar berjudul
MY LAST LOVE
Yang akan beredar Maret 2010







0 Response to "Sinopsis My Last Love karya Agnes Davonar"
Posting Komentar